SADIS!!! Terpuruk Hingga Batas Terakhir, Kini Sunaka Jewelry Raup Omzet Hingga Rp 400 Juta Perbulan - Galeri Aksesoris Kulit

SADIS!!! Terpuruk Hingga Batas Terakhir, Kini Sunaka Jewelry Raup Omzet Hingga Rp 400 Juta Perbulan

1 tahun yang lalu      Tips-tips

Krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 memang berdampak buruk pada hampir semua kalangan, tak terkecuali para pengrajin di daerah. Namun hal ini tak menyurutkan niat dan semangat teman-teman dari Sunaka Jewelry, Bali untuk menghidupkan kembali usahanya.

Bila bicara mengenai perhiasan, emas boleh dibilang sebagai primadona yang selalu diminati oleh kaum wanita. Padahal, masih banyak material lain yang bisa dirangkai menjadi perhiasan yang apik dan berdesain elegan. Inilah yang sejak tahun 1979 sudah dilakukan oleh Sunaka Jewelry, salah satu dari banyak pengrajin perhiasan dari Desa Celuk, Gianyar, Bali. Kurang lebih dua puluh tahun berjalan, produk Sunaka hanya berorietasi untuk eksport, mengerjakan berbagai pesanan dari brand luar negeri, tanpa menggunakan nama sendiri.

“Tapi sejak krisis tahun 1999 pesanan kita berkurang jauh. Bahkan ada yang sudah putus. Akhirnya kita munculkan lagi tahun 2000 Memang agak berkurang sih tahun 2000. Tahun 2014 baru kita publish sebagai sebuah brand. Jadi bikin brand sendiri dan punya produk sendiri,” ujar Kadek Ganda Ismawan, owner Sunaka Jewelry.

Rela Resign Demi Fokus

Perjuangan menghidupkan kembali usaha yang redup juga bukan perkara mudah. Diambil dari nama sang ayah, Sunaka Jewelry merupakan usaha turun temurun keluarga yang kini dijalani oleh Kadek. Pria kelahiran Denpasar, 10 Oktober 1981 ini memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai manager di hotel demi membangun kembali usaha keluarganya.

“Memang banyak teman-teman saya yang nggak mau meneruskan usaha keluarga. Tapi kalau saya sih pertama mau melestarikan tradisi di kampung kita yang sudah ratusan tahun ada sebagai pengrajin. Saya ingin melestarikan itu sebagai warisan leluhur buat anak cucunya. Kasihan juga nanti malah berkembangnya di tempat lain padahal kita sudah ada dari dulu,” ujar sarjana ekonomi ini.

Lihat koleksi menarik Tas Kulit Premium dari Galeri Aksesoris Kulit

Terus Mengembangkan Produk

Ketertarikan masyarakat Indonesia untuk mulai memakai perhiasan di luar emas juga jadi salah satu hal yang membuat Kadek mantap untuk menekuni pasar lokal. Perak yang sebelumnya dipandang sebelah mata kini mulai diminati masyarakat. Untuk membedakan produknya dari perhiasan lain, Sunaka punya kunci tersendiri.

“Yang pertama pastinya dari kualitas. Dalam proses pengerjaan kita memang fokus pada detail-detail dari kehalusan dan kerapihan. Yang kedua adalah desainnya. Walaupun kita ada ciri khas dari Bali ciri khas dari Indonesia, tapi kita sudah kontemporer dan sudah mengikuti desain yang terkini. Produk kita juga nggak sama dengan yang lain karena kita memang develop produk sendiri, nggak mengikuti yang lain,” terang Kadek.

Hingga saat ini, produk giwang atau anting masih menjadi andalan dari Sunaka. Dengan model Ombak Segare menjadi koleksi best seller. Diakui Kadek, keindahan alam dan budaya Indonesia memang jadi sumber inspirasi desain produknya. “Ada budaya Bali, Kalimantan, Jawa itu unsur budayanya sangat menginspirasi.  Termasuk juga alam, dari dari laut, binatang, sampai pola-pola tumbuhan itu banyak sekali yang bisa kita ambil untuk inspirasi desain,” imbuhnya.

Meski sudah sangat expert untuk produk perhiasan, Kadek tak mau berpuas diri. Ia bahkan merencanakan untuk melakukan ekspansi ke bidang home decor. “Itu next plan-nya kita. Tapi untuk 1-2 tahun kedepan kita masih fokus di jewelry.”

Sunaka Go Online

Walau sudah malang melintang di industri perhiasan, salah satu pengalaman paling menarik yang dirasakan oleh Kadek adalah saat mulai merambah dunia online. “Terus terang jualan online ini termasuk barang baru bagi kita. Walaupun temen-temen yang lain mungkin sudah duluan. Kalau offline kita kan memang sudah dari dulu, tapi pas jualan online pertama itu exciting banget,” ucapnya. Pilihan jatuh pada Qlapa sebagai marketplace pertama yang digunakan untuk memasarkan produk Sunaka. Lebih dari sekadar tempat berjualan, Kadek merasakan manfaat lain saat bergabung dengan Qlapa. “Kita ada grup WhatsApp juga. Ada info-info tips biar kita jualan optimal di marketplace. Foto juga dibantu. Terus ada jualan offline juga kaya pameran. Komunikasi nyambung jadi kalo ada special request dari customer disampein juga ke kita. Terus kita juga diingetin untuk kirim on time. Itu saya rasa luar biasa banget,” aku Kadek.

Selain memasarkan barangnya secara online, Sunaka Jewelry juga memiliki dua offline store yang ada di Denpasar dan Ubud. Dibantu oleh 20 orang pengrajin dan 15 karyawan di office dan store, Sunaka kini meraih omzet rata-rata Rp 300 – 400 juta perbulannya.

Saat ditanya mengenai cita-citanya terhadap Sunaka Jewelry, Kadek punya jawaban tersendiri. “Saya harap bisa berkembang dan jadi sebuah brand yang dikenal tidak cuma di dalam negeri juga bisa berkembang di luar negeri, termasuk brand brand lokal yang lain dan bisa bersaing dengan brand luar yang sudah terkenal seperti Guess, Tifany,” tutupnya.




Komentar Artikel "SADIS!!! Terpuruk Hingga Batas Terakhir, Kini Sunaka Jewelry Raup Omzet Hingga Rp 400 Juta Perbulan"