Bahan Dasar Sampah, Omzet Melimpah - Galeri Aksesoris Kulit

Bahan Dasar Sampah, Omzet Melimpah

8 bulan yang lalu      Tips-tips

Jika kamu melihat gambar di atas, apakah kamu bisa menebak terbuat dari apa perhiasan tersebut? Kayu, plastik, batu, kulit? Sayang sekali kamu salah. Karena jawabannya, dari tulang sapi! Ya, siapa sangka dari bahan-bahan sisa seperti tulang sapi, perhiasan cantik bisa tercipta.

Adalah Arnis Wigati, wanita di balik brand Sabuya Room yang koleksinya baru saja kamu lihat. Berawal dari hobinya jalan-jalan, Arnis yang lebih memilih backpack traveling senang merasakan hidup dengan masyarakat lokal. Pada suatu kesempatan di Bali, ia menginap di rumah pengrajin kalung dan melihat langsung cara pembuatannya. Sebelum pulang, ia meninggalkan desain perhiasan buatannya sendiri untuk dibuatkan perhiasan oleh pengrajinnya. “Waktu saya balik lagi ke Jakarta, dia kirim hasilnya dan ternyata bagus. Akhirnya saya pakai sendiri dan ternyata banyak yang nanya. Jadi ya sekalian aja saya jualin,” ujarnya.

Bentuk kolaborasi pun dipilihnya untuk mengembangkan Sabuya Room. Bersama dengan pengrajin yang ada di Bali, Arnis menghasilkan berbagai perhiasan unik yang menarik. Warna-warni yang terang, nuansa etnik, serta kesan alam jadi ciri khas dari produk Sabuya Room.

Andalkan ‘Sampah’

Jika bicara perhiasan, Indonesia memang rumahnya. Untuk bisa bersaing, wanita kelahiran Jakarta, 8 November 1985 ini memilih bahan yang tidak biasa untuk produknya. Ya, mulai dari tulang sapi, kayu hingga getah pohon merupakan bahan yang dipilih Arnis jadi bahannya. “Saya melihat ini unik, karena dari pada dibuang, kenapa tidak dikreasikan jadi sesuatu yang menarik,” urainya.

Lihat Koleksi Menarik Tas Kulit Premium dari Galeri Aksesoris Kulit

Arnis mendapatkan bahan baku diantaranya dari restoran iga sapi milik temannya, serta dari pengepul tulang sisa potongan sapi. Tulang tersebut kemudian diolah melalui proses yang panjang. Sekira satu bulan diperlukan untuk memproses tulang tersebut hingga siap dikreasikan. Prosesnya mulai dari pencucian, pengeringan, penghilangan bau, pemotongan tulang, penjemuran, hingga pewarnaan. Dari situ barulah tulang siap untuk dirangkai menjadi perhiasan. Semua proses ini dilakukan secara handmade sehingga menjadikan setiap produknya unik dan punya ciri khas tersendiri.

Awalnya Hanya Pelengkap

Koleksi kalung unik ini rupanya bukanlah produk utama dari Sabuya Room. Wanita yang bekerja di sebuah perusahaan media ini mengaku, bisnis awalnya adalah fashion yang berasal dari kain etnik, seperti tenun dan lurik. Dari hobi travelingnya, sedikit demi sedikit ia mengumpulkan kain dari berbagai daerah. Kain tersebut yang akhirnya ia jadikan bahan untuk produknya. “Ibuku memang hobinya menjahit, jadi aku pengen bikin baju ya karena beliau.Dan aku juga pernah belajar di Esmod untuk desain,” ungkapnya.

Dengan modal Rp 800.000 untuk bahan-bahan aksesoris, produk kalung-kalung cantik ini pun terus berjalan di Sabuya Room. Bersama dengan produk fashion etnik, kalung ini jadi pelengkap untuk satu kesatuan outfit yang ditujukan untuk wanita berusia 18 hingga 55 tahun.

Lihat Koleksi Menarik Dompet Kulit Premium dari Galeri Aksesoris Kulit

Hal unik lainnya dari produk Sabuya Room adalah penamaan produknya. Karena dimulai dari hobinya traveling di Indonesia, semua produknya juga diberi nama sesuai tempat-tempat di Nusantara. “Saya selalu pakai nama-nama pantai, gunung, atau danau di Indonesia. Misalkan Iboi, itu nama pantai di Pulau Sabang. Jadi setiap saya bikin suatu produk, saya ingat-ingat lagi nama tempat lainnya di Indonesia,” ucapnya. Sedangkan untuk nama dari produk fashionnya, biasa dinamai dari sebuah lokasi daerah kain tersebut berasal. Harapannya adalah bisa memberi inspirasi bagi konsumennya yang mungkin jadi ingin pergi ke sana.

Lebih Selektif

Dalam memilih sarana penjualan, Sabuya Room juga mengandalkan metode online. Salah satunya adalah lewat Instagram dan marketplace. Meski kini banyak marketplace, namun Arnis memandang bahwa ia perlu lebih selektif dalam memilihnya. Karena menjual produk unik dan handmade, ia perlu tempat yang tepat agar konsumen dapat menemukan produknya. “Karena lebih spesifik, jadi pembeli itu lebih gampang mencari produknya. Kalau marketplace yang lebih general produk saya jadi susah bersaing,” ujarnya. Bergabung di Qlapa sejak 2015, ia merasa pilihannya tidak salah, karena sebagian konsumennya menikmati kemudahan dalam bertransaksi, salah satunya adalah dengan kartu kredit.

Di tahun ketiganya ini, Arnis berharap produknya bisa menggugah masyarakat untuk kian bangga dengan kerajinan Indonesia. “Semoga Sabuya Room bisa makin dikenal di masyarakat, dan banyak yang menggunakan produknya. Karena dengan begitu berarti masyarakat bisa makin cinta dengan produk Indonesia,” ujarnya.




Komentar Artikel "Bahan Dasar Sampah, Omzet Melimpah"